MENYINGKAP RAHASIA SUNGAI NIL Jul 1, ’09 2:10 PM for everyone

MENYINGKAP RAHASIA SUNGAI NIL§

 

Oleh: Aep Saepulloh Darusmanwiati

 

Pendahuluan

‘Apabila tidak ada Nil, maka tidak ada Mesir’. Ungkapan ini, hemat penulis, tidak sepenuhnya salah. Ungkapan ini hendak menggambarkan betapa Mesir sangat bergantung dengan Nil. Hampir seluruh kehidupan Mesir, bersumber dari Sungai Nil. Ini juga barangkali, di antara factor mengapa ketika disebut Nil, maka yang terlintas adalah Mesir, tidak Negara-negara lainnya (padahal Negara-negara yang dilalui Nil mencapai sembilan Negara).

Keberadaan Nil, sebenarnya bukan semata dari segi sumber kehidupan masyarakat Mesir semata, akan tetapi ada yang lebih luar biasa dari itu. Sungai Nil merupakan di antara sungai ‘suci’ tiga agama besar, Islam, Yahudi dan Nashrani.

Bagi Yahudi, Sungai Nil adalah sungai sangat bersejarah, karena Nabiyullah Musa as ketika masih bayi merah dihanyutkan oleh ibunya yang bernama Nyukabad ke sungai Nil. Bagi agama Islam dan Kristen pun demikian. Karena sosok sayyidina Musa as, merupakan seorang Nabi yang diutus oleh Allah dalam dua agama dimaksud sekalipun.

Bukan hanya itu, sungai Nil juga disebutkan dalam tiga kitab suci agama, Yahudi, Kristen dan Islam. Dalam Taurat (dalam pengertian Perjanjian Lama), Bible, dan al-Qur’an, sungai Nil merupakan satu-satunya sungai disebutkan secara jelas dan gambling.

Bahkan, Dalam al-Qur’an, sebagaimana akan pernulis sampaikan nanti, sungai Nil merupakan satu-satunya sungai yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an dalam pengertian khusus. Bukan hanya itu, sungai Nil juga dijabarkan dalam banyak hadits Shahih, dan termasuk di antara tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepada Nabi Muhamamd saw, ketika melakukan Mi’raj.

Karena kelebihan-kelebihan inilah, maka mengkaji sungai Nil menjadi sangat penting adanya. Bagaimana sebenarnya sungai Nil dalam agama Islam ini? Apa keistimewaan-keistimewaan sungai Nil ini, dan mengapa ia begitu istimewa? INilah di antara beberapa pertanyaan yang hendak penulis jawab dalam makalah kecil kali ini.

Namun, sebelum membahas pertanyaan-pertanyaan dimaksud, penulis terlebih dahulu akan menyuguhkan ma’lumat ringkas seputar sungai Nil dari sisi pengetahuan modern.

Akhirnya, penulis berharap semoga tulisan kecil ini bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya. Akhirnya, hanya kepadaNyalah kita berbakti dan mengabdi, serta hanya kepadaNyalah kita akan kembali. Selamat menikmati.

 

Maklumat ringkas seputar sungai Nil

Sungai Nil merupakan sungai terpanjang di dunia. Panjangnya kurang lebih mencapai 6650 KM atau 4132 Mil. Ada sembilan Negara yang dilalui oleh sungai ini, yaitu: Mesir, Tanzania, Kenya, Zaire, Uganda, Ethiopia, Sudan, Rwanda dan Burundi. Namun demikian, setiap kali kita mendengar kata Nil, maka identik dengan Mesir, seolah Nil hanya berada di Mesir.

Hal ini boleh jadi karena banyak factor, di antaranya karena pengaruh Nil sangat luar biasa terhadap Mesir dibandingkan dengan Negara-negara lainnya. Mesir sangat bergantung ke sungai Nil bukan semata dalam masalah ekonomi, pengairan dan pertanian, akan tetapi juga dalam masalah peradaban. Seluruh peradaban Mesir Kuno berawal dari dataran sekitar Nil. Untuk itulah, tidak heran apabila seorang ilmuwan bernama Herodotus mengatakan: “Mesir adalah pemberian sungai Nil” (Egypt is the gift of the Nile).

Selain itu, boleh jadi keidentikan Nil dengan Mesir karena erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa penting bernuansa agama, di mana Nabi Musa as dihanyutkan. Dan tentu kisah dihanyutkannya Nabi Musa as di sungai Nil ini ada dalam tiga kitab suci agama besar, Islam, Yahudi dan Nashrani. Untuk itulah, setiap kali mendengar nama Nil, maka identik dengan Mesir saja, dan tidak dengan yang lainnya.

Sungai Nil merupakan sungai yang sangat unik. Umumnya sungai-sungai itu mengalir ke arah timur atau ke arah barat, sementara Nil tidak demikian, ia membentang dari selatan ke utara. Menurut para ahli, hal ini dikarenakan sungai Nil berada pada garis 3, 30 derajat lintang selatan, sampai 31derajat lintang utara, atau dengan kata lain bahwa sungai ini memotong lebih dari 34,5 derajat garis lintang. Oleh karena itulah arahnya dari selatan menuju kea rah utara.

Selain itu, keunikan lainnya dari sungai Nil ini, ia mengalir melalui daerah-daerah yang beragam dengan iklimnya yang bermacam-macam. Di daerah hulu, sungai Nil bersumber dan mengalir dari daerah yang beriklim tropis dan berdataran tinggi. Kemudian melewati beberapa sumbernya yang lain di daerah semitropis. Lalu melewati daerah lembah pegunungan yang beriklim subtropis.

Dari arah Ethiopia yang beriklim sub-seasonal, salah satu sumbernya mengalir. Kemudian sungai Nil melewati daerah Sudan yang merupakan daerah yang penuh dengan hujan musim panas dan kekeringan musim dingin. Setelah itu menerobos membelah daerahpadang pasir yang ganas, dan bermuara di daerah Mesir yang beriklim laut tengah. Dengan demikian, sungai Nil mengalir dari daerah hijau yang terletak pada garis khatulistiwa ke daerah padang pasir yang sangat tandus di bagian utara benua Afrika. Dengan begitu, setiap Nil mengalir satu langkah, dia akan kehilangan sebagian airnya. Jadi semakin ke hilir, airnya semakin berkurang. Hal ini berbeda dengan sungai-sungai lain di dunia, di mana semakin ke hilir semakin banyak muatan airnya.

Itulah Nil yang selalu berbeda dengan sungai-sungai pada umumnya.

 

Sungai Nil dalam al-Qur’an

Imam at-Taifaasyi dalam bukunya Suja’ul Hudail mengatakan: “Tidak satu pun sungai di muka bumi ini yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an, selain sungai Nil”. Paling tidak, dalam al-Qur’an, Allah menyebutkan sungai Nil dalam dua ayat penting yang semuanya berkaitan dengan kisah dihanyutkannya Nabi Musa bayi oleh ibunya, Nyukabad, berdasarkan perintah Allah. Berikut firman Allah dimaksud:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى * أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي[طه: 38, 39].

Artinya: “Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 38, 39).

Kata al-yamm dalam kedua ayat di atas, maknanya sama dengan kata al-bahr, yang berarti laut. Dan kata ‘laut’ yang dimaksud dalam kedua ayat di atas, para mufassirin telah sepakat, adalah Sungai Nil.

Imam at-Thabari misalnya dalam Tafsirnya, Jaamiul Bayaan fi Tafsiir al-Qur’an (20/30), bahwa yang dimaksud kata al-yamm adalah laut (al-bahr), dan yang dimaksud kata laut di sana adalah Sungai Nil.

Imam al-Baidhawi pun dalam Tafsirnya, Anwaarut Tanziil wa Asraarut Ta’wiil (4/283) mengatakan hal yang sama, bahwa  yang dimaksud kata al-yamm adalah al-bahr yang dimaksudkan adalah Nil.

Imam al-Alusy pun dalam Ruhul Ma’ani nya (20/45) mengatakan hal yang sama, bahwa yang dimaksudkan adalah sungai Nil.

Demikian juga dengan para ahli tafsir lainnya, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa, para ahli tafsir sudah sepakat yang dimaksud dengan kata al-yamm dalam kedua ayat di atas adalah al-bahr (laut), dan yang dimaksud laut di sini adalah sungai Nil.

Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arab (4/41 dalam maddah: ‘ bahr’) mengatakan:

وقد أَجمع أَهل اللغة أَن اليَمَّ هو البحر وجاءَ في الكتاب العزيز فَأَلْقِيهِ في اليَمِّ قال أَهل التفسير هو نيل مصر.

Artinya: “Para ahli bahasa telah sepakat, bahwa  yang dimaksud dengan kata al-yamm adalah al-bahr (laut), hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an: “Maka hanyutkanlah dia ke laut (sungai Nil”. Para ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud ‘laut’ dalam ayat ini adalah Nil Mesir”.

            Pertanyaan berikutnya, mengapa sungai Nil disebut dengan al-bahr (laut), bukankah laut itu airnya asin, sementara sungai air sungai nil tidak asin, melainkan tawar?

            Untuk itu, mari kita lihat menurut para ahli bahasa, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata al-bahr (laut) itu. Apakah benar, bahwa kata al-bahr itu hanya untuk menunjukkan laut  yang airnya asin?

            Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (4/41)mengatakan:

( بحر ) البَحْرُ الماءُ الكثيرُ مِلْحاً كان أَو عَذْباً وهو خلاف البَرِّ سمي بذلك لعُمقِهِ واتساعه قد غلب على المِلْح حتى قَلّ في العَذْبِ وجمعه أَبْحُرٌ وبُحُورٌ وبِحارٌ …..إِنما سمي البَحْرُ بَحْراً لسعته وانبساطه ومنه قولهم إِن فلاناً لَبَحْرٌ أَي واسع المعروف قال فعلى هذا يكون البحرُ للملْح والعَذْبِ

Artinya: “ (Bahr), kata al-bahr (laut) berarti air yang banyak, baik air itu asin maupun tawar. Laut merupakan kebalikan dari darat. Disebut demikian, karena kedalaman dan keluasannya. Dan laut umumnya digunakan untuk yang airnya asin, dan sedikit dipakai untuk yang airnya tawar. Bentuk jamak dari bahr adalah abhor, buhuur, dan bihaar…..Disebut bahr (laut), karena keluasannya. Oleh karena itu seseorang disebut melaut, maksudnya karena pengetahuannya yang sangat luas. Oleh karena itu, maka kata laut, mencakup pula untuk yang airnya asin dan tawar”.

            Ibnu Asyur dalam tafsirnya at-Tahriir wat Tanwiir (11/4249) ketika menafsirkan ayat 19 dari surat ar-Rahman juga mengatakan:

والبحر : الماء الغامر جزءاً عظيماً من الأرض يطلق على المالح والعذب .

Artinya: “Al-bahr (laut): adalah air yang melimpah yang memenuhi sebagian besar bumi, baik airnya asin maupun tawar”.

            Di antara dalil bahwa kata laut (bahr) ini tidak mesti yang airnya asin, akan tetapi juga yang airnya tawar, adalah firman Allah dalamsurat Fatir ayat 12 yang berbunyi:

وما يستوي البحران هذا عذب فرات سائغ شرابه وهذا ملح أجاج  [ فاطر : 12 ]

Artinya: “Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit.” (QS. Fatir: 12).

            Dalam ayat di atas disebutkan bahwa ada dua laut, yang satu airnya tawar dan yang satu lagi asin. Oleh karena itu, maka kata bahr(laut), bukan semata untuk yang airnya asin, akan tetapi juga mencakup yang asin dan tawar.

            Lalu mengapa Nil disebut Bahr juga? Nil, sekalipun airnya tawar tetap disebut bahr, karena dari segi luas dan dalamnya, sebagaimana dikatakan Ibnu Manzhur di atas. Dengan demikian, maka satu-satunya sungai yang disebut sebagai laut dalam al-Qur’an, hanyalah sungai Nil, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Qasash ayat 7 dan surat Thaha ayat 38 dan 39 di atas. Wallaahu a’lam bis shawab.

 

Sungai Nil dalam hadits-hadits Nabi saw

Bukan hanya dalam al-Qur’an, sungai Nil juga disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah saw. Di antaranya adalah dalam hadits shahih di bawah ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ))  [رواه مسلم]

Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Seihan, Jeihan, Nil dan Efrat, semuanya adalah sungai-sungai surga” (HR. Muslim).

عن أنس بن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( رفعت إلى السدرة فإذا أربعة أنهار نهران ظاهران ونهران باطنان فأما الظاهران النيل والفرات وأما الباطنان فنهران في الجنة فأتيت بثلاثة أقداح قدح فيه لبن وقدح فيه عسل وقدح فيه خمر فأخذت الذي فيه اللبن فشربت فقيل لي أصبت الفطرة أنت وأمتك)) [رواه البخاري]

Artinya:  “Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw bersabda: “Lalu saya dibawa naik ke Sidratul Muntaha, dan saya melihat ada empat sungai, dua sungai nampak, dan dua sungai lagi masih tersembunyi. Adapun dua sungai yang nampak adalah sungai Nil dan Efrat, sedangkan dua sungai yang tersembunyi adalah dua sungai yang masih ada di dalam surga (Seihan dan Jeihan). Kemudian, saya diberikan tiga  gelas, satu gelas berisi susu, satu gelas berisi madu dan satu gelas lagi berisi khamar (minuman keras). Saya lalu mengambil gelas yang berisi susu, kemudian saya meminumnya, lalu terdengar suara berkata kepada saya: “Kamu dan ummatmu telah sesuai dengan fitrah” (HR. Bukhari).

Dalam sebuah hadits Qudsi yang dinukil oleh Ibnu Zulaq dalam bukunya, Fadhail Mashr (hal 74), Allah berfirman:

يقول الله عز وجل: [ نيل مصر خير أنهاري في الجنة, أسكن عليه خيرتي من عبادي].

Allah berfirman: “Nil Mesir adalah sebaik-baik sungaiKu di surga, kelak akan dihuni oleh hamba-hamba pilihanKu”.

 

Sungai Nil dalam pandangan para ulama

Imam Ka’ab al-Ahbar, sebagaimana dinukil oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam bukunya Tarikh Baghdad (1/55), juga dinukil oleh Imam al-Harits dalam Musnad al-Harits atau lebih dikenal dengan Zawaid al-Haitsami (2/944) pernah mengatakan:

أربعة انهار من الجنة وضعها الله في الدنيا؛ فالنيل نهر العسل في الجنة والفرات نهر الخمر في الجنة، وسيحان نهر الماء في الجنة، وجيحان نهر اللبن في الجنة.

Artinya: “Ada empat sungai surga yang Allah berikan di dunia, yaitu: sungai Nil yang merupakan sungai madu di surga, sungai Efrat yang merupakan sungai khamar di surga, sungai Seihan yang merupakan sungai air di surga, dan sungai Jeihan yang merupakan sungai susu di surga kelak”.

Dalam riwayat lain sebagaimana dinukil oleh Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (1/56), juga dalam Tarikh Masr karya Ibn Abdil Hakam, Ka’ab al-Ahbar juga pernah berkata: “Sungai Nil adalah sungai madu di surga, sungai Deglah adalah sungai susu di surga, sungai Efrat adalah sungai khamar di surga, dan sungai Seihan adalah sungai air di surga kelak”.

Amer bin Ash, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/302), juga pernah mengatakan: 

نيل مصر سيد الأنهار، سخر الله له كل نهر بالمشرق والمغرب، فإذا أراد الله أن يجري نيل مصر أمر كل نهر أن يمده، فأمدته الأنهار بمائها، وفجر الله له الأرض عيونا، فإذا انتهت جريته إلى ما أراد الله، أوحى الله إلى كل ماء ان يرجع إلى عنصره.

Artinya: “Sungai Nil Mesir adalah rajanya sungai-sungai, Allah menundukkan semua sungai di timur dan di barat kepadanya. Apabila Allah berkehendak untuk mengalirkan sungai Nil Mesir, maka Allah memerintahkan semua sungai untuk mengalirkan airnya, maka semua sungai pun mengalirkannya, dan Allah mengeluarkan untuk sungai Nil mata air-mata air bumi. Dan apabila Nil Mesir tidak lagi mengalirkan airnya sebagaimana kehendak Allah, maka Allah memerintahkan semua air untuk kembali ke asalnya”.

Ibnu Abbas, sebagaimana dinukil oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad nya, juga oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadarah nya (2/303), pernah berkata: “Allah menurunkan lima sungai surga ke muka bumi ini: Seihan, Jeihan, Deglah, Efrat dan Nil, Allah menurunkannya dari salah satu dari beberapa mata air surga, dari tingkatakan paling bawah dari tingkatan-tingkatannya, di atas dua sayap Jibril. Allah mengalirkannya di muka bumi, sehingga membawa banyak manfaat untuk manusia, hal ini sesuai dengan firmanNya: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi…” (QS. Al-Mu’minuun: 18). Dan ketika Ya’juj dan Ma’juj keluar nanti, Allah akan mengutus Jibril untuk mengangkat dari bumi al-Qur’an, ilmu, batu Hajar Aswad, batu yang berada di Maqam Ibrahim,  peti Nabi Musa as berikut isinya, dan lima sungai ini. Semuanya akan diangkat kembali ke langit, dan ini sesuai dengan firmanNya: “…dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk menghilangkannya” (QS. Al-Mukminuun: 18). Ketika semua ini sudah diangkat dari muka bumi, maka manusia akan segera mengalami kehancuran”.

Ibnu Zulaq dalam Fadhail Masr (hal 76) pernah mengutip perkataan para ulama Mesir yang mengatakan: “Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mengalir dari utara ke selatan, selain Sungai Nil (umumnya dari barat ke timur atau sebaliknya), tidak ada satu pun sungai yang sampai ke laut Romawi dan Laut China selain Sungai Nil Mesir, dan tidak ada  satu pun sungai di muka bumi ini yang alirannya menghadap kea rah selatan, selain sungai Nil Mesir”.

Ibnu Zulaq juga melanjutkan kutipannya: “Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mengalir dengan derasnya pada waktu udara sangat panas—dimana sungai-sungai dan mata air-mata air berkurang bahkan berkering—selain Sungai Nil. Setiap kali udara dan matahari bertambah panas, maka Sungai Nil pun bertambah banyak airnya”.

“Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang airnya pasang juga surut secara teratur, selain Nil Mesir”.

 

Surat Umar bin Khatab untuk sungai Nil

Para ahli sejarah mencatat sebuah kejadian luar biasa, berupa surat dari seorang khalifah yang ditujukan bukan kepada raja atau penguasa lainnya, bukan juga kepada gubernur atau bawahannya, akan tetapi kepada sebuah sungai, sungai Nil. Kisah ini sangat masyhur dan ditulis oleh hamper seluruh sejarawan, termasuk sejarawan, mufassir, sangat ternama Ibnu Katsir dalam bukunya al-Bidayah wan Nihayah pada bahasan Fath Mashr (penundukkan kota Mesir).

Kisah ini berawal tidak lama setelah Amer bin Ash membawa Islam ke Mesir, air sungai Nil tiba-tiba menyurut dan kering. Orang-orang Mesir saat itu berkata: “Nil memang biasa demikian, dan apabila airnya berkurang atau kering, kami biasa mencari seorang gadis sangat cantik, kemudian meminta idzin kepada orang tuanya untuk dihiasi, didandani dan dipercantik, kemudian ditenggelamkan di sungai Nil. Dan tidak lama setelah itu, sungai Nil akan kembali bertambah airnya”.

Amer bin Ash kemudian berkata kepada penduduk Mesir saat itu: “Islam melarang perbuatan nista tersebut”. Namun, beberapa hari berjalan, sungai Nil tetap menyurut dan kering. Amer bin Ash lalu berkirim surat kepada khalifah Umar bin Khatab di Madinah, mengabarkan apa yang sedang terjadi di Mesir seputar sungai Nil.

Umar bin Khatab kemudian membalas surat Amer bin Ash, dan mengabarkan bahwa apa yang dikatakannya kepada penduduk Mesir adalah benar. Khalifah Umar bin Khatab juga mengabarkan bahwa ia telah menulis surat kepada sungai Nil, yang ditulis di sebuah kertas dan begitu surat tersebut sampai, agar segera dilemparkan ke dalam sungai Nil.

Isi surat Umar bin Khatab kepada sungai Nil dimaksud, sebagaimana ditulis Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan-Nihayah (7/100) adalah sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

من عبد الله عمر أمير المؤمنين إلى نيل مصر, أما بعد:

يا نيل مصر, فإن كنت إنما تجري من قبلك ومن أمرك, فلا تجر فلا حاجة لنا فيك, وإن كنت إنما تجري بأمر الله الواحد القهار, وهو الذي يجريك, فنسأل الله تعالى أن يجريك.

Artinya:

“Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukminiin kepada Nil Mesir

Wahai Nil Mesir, apabila kamu mengalir itu karena kamu dan karena keinginanmu, maka janganlah kamu mengalir lagi, karena kami tidak memerlukan kamu. Namun, apabila kamu mengalir itu karena perintah dan ketentuan Allah yang Tunggal dan Maha Gagah, dan memang Dialah yang telah mengalirkan kamu, maka kami memohon kepada Allah untuk mengalirkan kamu kembali”.

Begitu surat Umar tersebut sampai di Amer bin Ash, Amer bin Ash segera melemparkan surat dimaksud ke dalam sungai Nil. Begitu malam tiba, sungai Nil pun kembali mengalir dengan deras dan banyaknya.

 

Keistimewaan-keistimewaan sungai Nil

Dibandingkan dengan sungai-sungai lainnya di muka bumi, sungai Nil mempunyai keistimewaan tersendiri. Di antara keistimewaan-keistimewaan sungai Nil adalah:

1.      Satu-satunya sungai yang disebutkan dalam al-Qur’an (secara Ijma para ulama)

Sebagaimana telah penulis sampaikan di atas, bahwa sungai Nil merupakan satu-satunya sungai yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an, sebagaimana disampaikan oleh Imam at-Taifaasyi dalam bukunya Suja’ul Hudail: “Tidak satu pun sungai di muka bumi ini yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an, selain sungai Nil”.

Dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَاتَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى * أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي[طه: 38, 39].

Artinya: “Yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, Yaitu: “Letakkanlah ia (Musa) didalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), Maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir’aun) musuh-Ku dan musuhnya. dan aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku” (QS. Thaha: 38, 39).

Para ulama sepakat, bahwa  yang dimaksud dengan ‘laut’ dalam kedua ayat di atas adalah sungai Nil.

2.      Sungai Nil adalah di antara sungai surga yang diberikan untuk penghuni dunia

Sebagaimana telah penulis sampaikan sebelumnya, bahwa banyak hadits shahih yang menjelaskan bahwa sungai Nil merupakan sungai surga yang diturunkan oleh Allah untuk penghuni dunia. Di antara hadits shahih yang menjelaskan hal itu adalah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (( سَيْحَانُ وَجَيْحَانُ وَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ كُلٌّ مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ)) [رواه مسلم]

Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Seihan, Jeihan, Nil dan Efrat, semuanya adalah sungai-sungai surga” (HR. Muslim).

3.      Sungai Nil adalah sungai madu di surga kelak

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat di bawah ini yang diriwayatkan oleh Imam al-Harits dalam Musnad nya (Zawaid al-Haitsamy, bab fadhlul anhaar: 2/944) juga disampaikan oleh al-Khatib al-Baghdady dalam Tarikh Baghdad nya (1/55) di bawah ini:

قال ابن عبد الحكم: حدثنا عبد الله بن صالح، حدثنا الليث، عن يزيد بن أبي حبيب، عن ابي الخير، عن كعب الأحبار، أنه كان يقول: أربعة انهار من الجنة وضعها الله في الدنيا؛ فالنيل نهر العسل في الجنة والفرات نهر الخمر في الجنة، وسيحان نهر الماء في الجنة، وجيحان نهر اللبن في الجنة. [أخرجه الحارث في مسنده والخطيب في تاريخه].

Artinya: “Ka’ab al-Ahbar berkata: “Ada empat sungai surga yang Allah berikan di dunia, yaitu: sungai Nil yang merupakan sungai madu di surga, sungai Efrat yang merupakan sungai khamar di surga, sungai Seihan yang merupakan sungai air di surga, dan sungai Jeihan yang merupakan sungai susu di surga kelak”. (Riwayat Harits).

Berkaitan dengan riwayat di atas, Imam Ahmad bin Abu Bakar bin Ismail al-Bushairy dalam kitabnya Ittihaaf al-Khairah al-Muhirrah Bi Zawaaid al-Masaanid al-‘Asyrah (8/87) mengatakan, bahwa riwayat di atas disampaikan oleh al-Harits bin Abu Usamah secara mauquf,akan tetapi semua rawi-rawinya adalah tsiqat (dapat dipercaya).

4.      Sungai Nil adalah Rajanya sungai

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ibn Abi Hatim dalam Tafsirnya, sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/302), bahwa Amer bin Ash pernah mengatakan: 

نيل مصر سيد الأنهار، سخر الله له كل نهر بالمشرق والمغرب، فإذا أراد الله أن يجري نيل مصر أمر كل نهر أن يمده، فأمدته الأنهار بمائها، وفجر الله له الأرض عيونا، فإذا انتهت جريته إلى ما أراد الله، أوحى الله إلى كل ماء ان يرجع إلى عنصره.

Artinya: “Sungai Nil Mesir adalah rajanya sungai-sungai, Allah menundukkan semua sungai di timur dan di barat kepadanya. Apabila Allah berkehendak untuk mengalirkan sungai Nil Mesir, maka Allah memerintahkan semua sungai untuk mengalirkan airnya, maka semua sungai pun mengalirkannya, dan Allah mengeluarkan untuk sungai Nil mata air-mata air bumi. Dan apabila Nil Mesir tidak lagi mengalirkan airnya sebagaimana kehendak Allah, maka Allah memerintahkan semua air untuk kembali ke asalnya”.

5.      Setiap tahun Allah mewahyukan dua hal kepada Nil

Dalam sebuah riwayat sebagaimana dinukil oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadarah (2/302), juga dalam an-Nujum az-Zaahirah fi Muluk Mashr wal Qaahirah (1/12) disebutkan:

وقال: حدثنا عثمان بن صالح، حدثنا ابن لهيعة، عن يزيد بن أبي حبيب أن معاوية بن أبي سفيان سال كعب الأحبار، هل تجد لهذا النيل في كتاب الله خبرا؟ قال: أي والذي فلق البحر لموسى، إني لأجده في كتاب الله يوحي إليه في كل عام مرتين، يوحي إليه عند جريه: عن الله يأمرك أن تجري فيجرى ما كتب الله، ثم يوحي إليه بعد ذلك: يا نيل عد حميداً.

Artinya: “Bahwasannya Muawiyyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Ka’ab al-Ahbar: “Apakah kamu menemukan satu kabar dalam Kitab Allah tentang sungai Nil ini?” Ka’ab menjawab: “Demi kegagahan yang telah membelah laut kepada Nabi Musa as, sesungguhnya saya mendapatkan dalam Kitab Allah, bahwasannya Allah mewahyukan dua hal setiap tahunnya kepada Nil, pertama, Allah mewahyukan ketika Nil mengalirkan airnya bahwasannya Allah memerintahkan kamu untuk mengalirkan airnya, maka Nil pun segera mengalirkannya, sampai waktu yang telah Allah tentukan. Kedua, Allah mewahyukan setelah itu (ketika surut): ‘Wahai Nil, kembalilah kamu (maksudnya surutlah) dengan baik-baik”.

6.      Sungai Nil di antara sungai yang akan diangkat kelak ketika kiamat sudah dekat

Keistimewaan Nil lainnya, adalah bahwa ia  di antara tanda kekuasaan Allah yang apabila Kiamat sudah dekat di mana Ya’juj dan Ma’juj akan keluar, ia akan diangkat kebaikan dan manfaatnya oleh Allah ke langit. Hal ini dapat berupa, air Nil menjadi kering, atau tetap banyak, akan tetapi tidak bermanfaat banyak lagi. Hal ini sesuai dengan perkataan Ibnu Abbas di bawah ini:

عن ابن عباس مرفوعا: انزل الله تعالى من الجنة إلى الأرض خمسة انهار: سيحون، وجيحون، ودجلة، والفرات والنيل؛ أنزلها الله من عين واحدة من عيون الجنة، من أسفل درجة من درجاتها، على جناحي جبريل، واستودعها الجبال، وأجراها في الارض، وجعل فيها منافع للناس، فذلك قوله تعالى: )وأنزلنا من السماء ماء بقدر فأسكناه في الأرض(، فإذا كان عند خروج ياجوج وماجوج، أرسل الله جبريل، فرفع من الأرض القرآن والعلم والحجر من البيت ومقام إبراهيم وتابوت موسى بما فيه؛ وهذه الأنهار الخمسة، فيرفع كل ذلك إلى السماء؛ فذلك قوله: )وأنا على ذهاب به لقادرون(، فإذا رفعت هذه الأشياء من الأرض عدم أهلها خيرها. [الخطيب في تاريخه 1/57, وابن حبان, المجروحين 3/323, 324, وهو ضعيف]

Artinya: “Dari Ibnu Abbas, dan riwayatnya Marfu’, berkata: ‘Allah menurunkan lima sungai surga ke muka bumi ini: Seihan, Jeihan, Deglah, Efrat dan Nil, Allah menurunkannya dari salah satu dari beberapa mata air surga, dari tingkatakan paling bawah dari tingkatan-tingkatannya, di atas dua sayap Jibril. Allah mengalirkannya di muka bumi, sehingga membawa banyak manfaat untuk manusia, hal ini sesuai dengan firmanNya: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi…” (QS. Al-Mu’minuun: 18). Dan ketika Ya’juj dan Ma’juj keluar nanti, Allah akan mengutus Jibril untuk mengangkat dari bumi al-Qur’an, ilmu, batu Hajar Aswad, batu yang berada di Maqam Ibrahim,  peti Nabi Musa as berikut isinya, dan lima sungai ini. Semuanya akan diangkat kembali ke langit, dan ini sesuai dengan firmanNya: “…dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk menghilangkannya” (QS. Al-Mukminuun: 18). Ketika semua ini sudah diangkat dari muka bumi, maka manusia akan segera mengalami kehancuran”. (Dinukil dariTarikh Baghdad karya al-Khatib al-Baghdadi: 1/57, dan dalam al-Majruuhiin karya Ibnu Hibban: 3/323, 324, dan riwayat ini riwayat Dhaif).

7.      Sungai nil satu-satunya sungai di dunia yang disebut dalam al-Qur’an sebagai laut

Imam al-Mas’udi pernah berkata, sebagaimana dinukil oleh al-Maqrizi dalam al-Mawa’id wal I’tibaar nya (1/65):

وقال المسعودي: نهر النيل من سادات الأنهار وأشراف البحار لأنه يرج من الجنة على ما ورد به خبر الشريعة. وقد قال: إن النيل إذا زاد غاضت له الأنهار والأعين والآبار، وإذا غاض زادت فزيادته من غيضها وغيضه من زيادتهاوليس في أنهار الدنيا نهر يسمى بحراً غير نيل مصر لكبره واستبحاره.

Artinya: “Al-Mas’udy berkata: “Sungai Nil termasuk di antara Raja nya sungai-sungai, dan termasuk di antara laut yang paling mulia, karena ia bersumber dari surga sebagaimana disebutkan dalam berbagai keterangan. Apabila sungai nil bertambah banyak airnya, maka seluruh sungai, mata air dan sumur berkurang airnya, dan apabila sungai nil berkurang airnya, maka sungai-sungai, mata air dan sumur bertambah banyak airnya. Bertambah nya air sungai Nil dari surutnya air-air lainnya, dan surutnya air Nil dari bertambahnya air-air lainnya. Dan tidak ada satupun sungai di muka bumi ini yang disebut sebagai laut (bahr), selain Nil Mesir, karena besar dan luasnya”.

Dalam al-Qur’an, Allah juga berfirman:

وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ [القصص: 7]

Artinya: “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke laut (sungai Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari Para rasul” (QS. Al-Qashash: 7).

Kata ‘laut’ dalam ayat di atas, adalah Sungai Nil. Dan hanya Nil yang disebutkan sebagai laut dalam al-Qur’an karena keluasan dan kebesarannya.

8.      Sungai nil di antara sungai yang diberi gelar Sungai Mukmin

Dalam sebuah hadits sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn al-Jauzy dalam Gharib al-Hadits nya (1/42), juga oleh Abu as-Sa’adaat al-Mubaarak bin Muhammad al-Jazary dalam  kitabnya an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wal Atsar (1/66) disebutkan:

((نهران مؤمنان، ونهران كافران. أما المؤمنان: فالنيل والفرات، وأما الكافران: فدجلة ونهر بلخ)).

Artinya: “Ada dua sungai mukmin dan dua sungai kafir. Adapun dua sungai mukmin adalah: Nil dan Efrat, sedangkan dua sungai Kafir adalah Deglah dan Balkh”.

Ibnu al-Jauzi dalam Gharib al-Hadits nya (1/42) mengatakan, dinamakan sungai mukmin, karena ia dapat menyirami dan mendatangkan banyak manfaat sebagaimana layaknya seorang mukmin. Sedangkan disebut sungai kafir, karena tidak dapat mengairi dan tidak dapat mendatangkan banyak manfaat.

 

Sungai Nil: Lain dari yang lain

Imam at-Taifasy, sebagaimana dikutip oleh Imam as-Suyuthi dalam Husnul Muhadharah (2/315), pernah mengatakan: “Para ulama telah sepakat, bahwa sungai Nil merupakan sungai yang paling istimewa dibandingkan dengan sungai-sungai lainnya, karena beberapa sebab:

1.      Manfaatnya yang sangat luar biasa. Tidak ada satupun sungai di muka bumi ini yang dapat mengairi dengan begitu hebatnya, dan begitu luasnya selain sungai Nil. Manfaat yang diberikan melebihi sungai-sungai pada umumnya.

2.      Hemat dalam pengairannya. Air Nil cukup untuk menyirami tanaman satu kali saja, dan ketika air Nil sudah menyerap ke dalam tanah, maka tanaman itu tidak mengapa tidak disiram lagi sampai dipetik hasilnya nanti. Dan tentu tidak demikian dengan sungai-sungai lainnya.

3.      Air Nil bertambah banyak, ketika sungai-sungai lainnya menyusut, dan sebaliknya, ketika air sungai-sungai pada umumnya bertambah banyak, air sungai Nil malah menyusut.

4.      Hampir semua sungai-sungai di muka bumi, mengalir dari arah timur ke barat, sementara Nil mengalir dari arah selatan ke utara. Karena itu disebutkan dalam sebuah syair:

مصر, ومصر ماؤها عجيب                      ونهرها يجري به الجنوب

Artinya: Mesir, Air Mesir memang luar biasa,

Sungainya mengalir menuju utara

Menurut para ilmuwan modern, mengalirnya Nil dari Selatan ke Utara, karena sungai ini berada membentang pada garis 3, 30 derajat lintang selatan, sampai 31derajat lintang utara, atau dengan kata lain bahwa sungai ini memotong lebih dari 34,5 derajat garis lintang

5.      Tidak ada satu pun sungai di muka bumi ini yang mencapai laut China dan Romawi selain Sungai Nil.

6.      Sungai Nil juga pasang, surut airnya dengan tertib dan berurutan, dan tidak didapatkan pada sungai-sungai lainnya.

7.      Hasil-hasil tanaman yang disiram sungai Nil sangat luar biasa banyaknya, dan tidak didapatkan pada sungai-sungai lainnya.

Demikian di antara keistimewaan-keistimewaan Sungai Nil dari sungai-sungai lainnya yang dijelaskan oleh para sejarawan Mesir kenamaan.

 

 

 

Hewan-hewan khusus Sungai Nil

Bukan saja, dari segi air dan manfaatnya, namun juga ternyata sungai Nil menyimpan sejuta misteri menyangkut hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Para sejarwan muslim yang hidup ratusan tahun yang lalu telah banyak menceritakan misteri ini. Hewan-hewan aneh yang tidak ditemukan diperairan apapun, di sungai manapun di dunia ini, dan hanya ada di sungai Nil. Berikut penulis ketengahkan hewan-hewan aneh yang hidup di sungai Nil berdasarkan pemaparan para ulama dahulu kala.

1.      Syaikhul Bahr (Putri Duyung). Kisah putri duyung sangat kental dengan kehidupan masyarakat dewasa ini, khususnya dunia anak-anak. Ikan yang digambarkan berwajah cantik seorang putri dan berbadan ikan ini, tidak diketahui secara benar dari mana asal muasal kisah ini muncul. Apakah hanya mitos dan khayalan belaka atau memang sebuah kenyataan. Yang jelas, hamper semua meNilai, semua adalah mitos dan rekaan manusia belaka.

Namun, apakah anda percaya kalau sebenarnya ikan jenis ini merupakan salah satu jenis hewan aneh yang hidup di sungai Nil Mesir? Para sejarawan yang hidup di abad ke 2 atau 3 hijriyyah telah menulis adanya hewan aneh ini yang hidup di sungai Nil dan bahkan menurut mereka, boleh jadi tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya di muka bumi ini.

Adalah Umar bin Muhammad bin Yusuf al-Kinady atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn al-Kinady yang diperkirakan hidup pada abad ke dua hijriyyah, sebagaimana dinukil oleh al-Maqrizi dalam al-Mawaa’id wal I’tibar, telah panjang lebar menceritakan jenis-jenis hewan aneh yang tinggal di Sungai Nil Mesir.

Menurutnya, di antara kelebihan dan keistimewaan sungai Nil Mesir dari sungai-sungai lainnya di muka bumi, adalah hidupnya beberapa jenis hewan aneh yang tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya. Di antaranya, ada sejenis ikan yang bermuka manusia dan berbadan ikan. Bahkan, di antara jenis ikan ini, ada juga yang sampai mukanya menyerupai seorang kakek-kakek berjenggot tebal dan panjang. Dan ikan jenis ini hidup di sungai Nil di daerah sekitar Dimyat.

Orang-orang Mesir pada saat itu, menyebut ikan jenis ini dengan nama Syaikhul Bahr (Penjaga Sungai Nil). Masyarakat saat itu mempunyai anggapan, ikan tersebut berperan sebagai pemberi tahu. Dimana seseorang melihat ikan jenis ini, itu pertanda akan terjadinya kekeringan, kematian dan bencana.

      Penulis tidak mengetahui secara benar keabsahan kisah ini. Di satu sisi, diragukan kebenarannya, karena tidak jelas sumber asalnya. Namun, di sisi lain, boleh jadi juga dibenarkan keabsahannya, mengingat hamper semua sejarawan dahulu kala selalu menyebut jenis ikan ini dalam kitab-kitabnya. Dan, tentu, hal ini bukan sesuatu yang mustahil akan adanya.

Kalau saja jenis ikan ini betul-betul ada dahulu kala, maka boleh dikatakan, sebenarnya kisah Putri Duyung berasal dari Mesir, tepatnya dari Sungai Nil Mesir. Dan kalau benar ini terjadi, maka sebutan Mesir sebagai Ummul Hadarah dan Ummud Dunya, betul-betul tidak diragukan dan betul-betul mencakup semua aspek, karena mencakup juga kisah-kisah aneh yang belakangan marak diperbincangkan di masyarakat dunia, termasuk di Indonesia.

2.      Farasul Bahr (Kuda Nil). Mari kita sejenak merenung, mengapa salah satu jenis hewan yang mirip kuda dikenal dengan sebutan Kuda Nil. Mengapa tidak disebut Kuda Amazon, atau Kuda Kapuas atau Kuda Ciliwung? Apakah sebutan ‘Nil’ di ujung nama tersebut ada kaitannya dengan Sungai Nil? Ataukah hanya sekedar nama biasa yang tidak ada sangkut pautnya?

Penulis mencoba melacak sejarah Kuda Nil, namun tidak ditemukan sejarah yang lengkap, detail dan menenangkan tentang mengapa dikenal dengan nama itu. Sejarah yang ada, tidak banyak mengupas persoalan nama itu, dan kalaupun ada, hanya sekedarnya saja.

Oleh karena itu, ketika penulis membaca buku-buku yang ditulis para ulama ratusan tahun lalu tentang keajaiban Sungai Nil (‘ajaib an-niil), penulis mendapatkan sedikit kesinambungan nama tersebut.

Para ulama dahulu kala, menulis bahwa di antara hewan aneh yang hidup di Sungai Nil Mesir, juga ada sejenis ikan dalam bentuk seekor kuda. Mereka menyebutnya Farasul Bahr (Kuda Sungai Nil). Menurut catatan para sejarawan ini, ikan jenis ini memakan buaya, dan karenanya, di mana ikan jenis ini berada, di sana jarang atau boleh jadi tidak ada sama sekali diketemukan buaya. Ikan jenis ini umumnya hidup di sungai Nil di daerah Aswan, Mesir.

Ikan jenis ini mirip bentuknya dengan kuda yang hidup di daratan, hanya saja ekornya lebih besar dan lebih indah warnanya. Telapak kakinya mirip telapak kaki sapi, dan tubuhnya lebih besar sedikit dari tubuh keledai. Dan terkadang, ikan jenis ini sengaja keluar ke daratan, kemudian berhubungan badan dengan kuda yang hidup didaratan, sehingga melahirkan seekor kuda yang sangat bagus dan cantik.

Kisah di atas, ditulis oleh banyak sejarawan ketika mencoba mengulas seputar hal-hal yang berkaitan dengan sungai Nil. Dan mereka  yang menceritakannya, bukan orang-orang sembarang, akan tetapi para ulama dan sejarawan yang memang sudah ‘kahot’ dibidangnya. Untuk itu,hemat penulis, kisah ini sangat boleh jadi keberadaan dan kebenarannya. Di antara buku belakangan yang menceritakan hewan-hewan ini, di antaranya adalah kitab al-Mawaaid wal I’tibaar karya Imam al-Maqrizi.

Kalau ini kisah ini benar adanya, maka boleh jadi dan sangat besar kemungkinan, nama ‘Nil’ yang melengket dengan nama salah satu jenis hewan belakangan ini yang dikenal dengan nama ‘Kuda Nil’, sangat erat kaitannya dengan Farasul Bahr, sejenis ikan yang berbentuk kuda yang hidup di sungai Nil ini.

Apakah wujud Farasul Bahr sama persis dengan Kuda Nil sekarang ini? Tentu sulit dibuktikan. Hanya, kalaupun tidak sama persis, pengambilan nama ‘Kuda Nil’ ini, boleh jadi, hendak menisbahkan dengan jenis ikan yang hidup di sungai Nil yang dikenal dengan nama Farasul Bahr ini, dari segi bentuk, wujud dan kehidupannya.

3.      Ar-Ru’aad (Ikan Geledek). Ikan ini disebut Ikan Geledek (ar-Ru’aad), karena selalu menyambar para nelayan, laksana kilat yang selalu menyambar. Ikan ini sejenis ikan biasa yang besarnya seukuran lengan. Namun tenaga dan kekuatannya sangat besar, sehingga apabila ikan ini menyambar tangan nelayan atau jarring, maka kedua tangan dan kaki nelayan itu akan bergetar, seolah terkena aliran listrik. Getaran itu tidak akan berhenti, sampai ikan tersebut dilepaskan atau ikan tersebut mati.

Ikan ini bukan ikan untuk dimakan, akan tetapi diyakini oleh masyarakat Mesir dahulu kala sebagai ikan obat. Mereka yang sering sakit kepala (barangkali istilah sekarang Migren), sehebat apapun sakitnya, apabila ditempelkan ikan tersebut persis di atas kepalanya, maka saat itu juga sakit kepalanya akan hilang. Dengan catatan ikan tersebut masih hidup, bukan setelah mati.

Oleh karena itu, masyarakat Mesir saat itu, biasa mencari ikan ini sebagai obat sakit kepala yang sudah bertahun-tahun atau yang sudah sangat parah sekalipun.  Bahkan, bukan hanya itu, masyarakat Mesir dahulu kala menyakini Ikan Geledek ini sebagai ikan keberuntungan, di mana menurut kepercayaan mereka, apabila seorang gadis atau janda menenggantungkan sebagian anggota tubuh Ikan Geledek ini, maka wanita tersebut akan segera mendapatkan jodohnya. Atau bagi yang sudah bersuami, maka suaminya akan selalu nempel dengan dirinya.

Demikian juga dengan laki-laki. Setiap laki-laki yang menempelkan sebagian anggota tubuh Ikan Geledek ini, maka ia akan segera mendapatkan jodoh yang sesuai, dan apabila telah menikah, maka isterinya tidak akan meninggalkannya, juga tidak akan jauh dari dirinya. Demikian, kepercayaan masyarakat Mesir dahulu kala tentang Ikan jenis ini, sebagaimana ditulis oleh para sejarawan Mesir, semisal al-Maqrizi dalam al-Mawaid wal Itibar (1/66).

4.      As-Suqnaqur. Ikan jenis ini merupakan hasil perkawinan antara ikan dengan buaya. Bentuknya tidak seluruhnya seperti ikan, karena Suqnaqur mempunyai dua tangan dan dua kaki, juga tidak seperti buaya, ekornya licin mulus, lebar dan tidak berduri sebagaimana buaya. Ikan ini mempunyai racun yang sangat berbahaya, dan apabila racun ini dimakan, maka akan mengakibatkan kematian seketika.

Ikan jenis ini sebagaimana Ikan Geledek, bukan untuk dimakan, akan tetapi sebagai obat. Suqnaqur merupakan obat untuk kekuatan hubungan badan, khususnya bagi laki-laki. Biasanya yang diambil dari Suqnuqur ini hanya daging dan lemaknya saja. Ada yang dijadikan seperti salep dan ada juga yang dikeringkan dan dimakan disatukan dengan madu atau sayur. Suqnaqur juga hanya diketemukan di sungai Nil saja, dan tidak ditemukan di sungai-sungai lainnya.

Demikian di antara jenis-jenis hewan khas yang hidup di sungai Nil dan tidak hidup di sungai-sungai lainnya di muka bumi ini.

 

Penutup

Demikian, makalah ringkas seputar sungai Nil ini penulis sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Apa yang benar tentu datangnya dari Allah dan RasulNya, dan apa yang tidak benar, tentu datang dari kebodohan penulis sendiri dan dari Setan. Wallahu ‘alam bis shawab.

 

 

Katamea, Senin, 22 Juni 2009 pukul 01.00 dini hari

Email penulis: aepmesir@yahoo.com

 

 

 


  • §  Makalah ini merupakan pengantar pada diskusi pengajian gabungan Majlis Taklim al-Muttaqien dan Majlis Taklim an-Nisaa yang diselenggarakan pada hari Selasa, 23 Juni 2009, di atas kapal layar (valuka), di atas Sungai Nil, Kairo, Egypt.
 
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s